Rabu, 30 September 2009

Yang harus diperhatikan oleh para Pemanjat Tebing

Yang harus diperhatikan oleh para Pemanjat Tebing

• Pembuatan Rute/ Problem Baru
Jangan merubah permukaan tebing:
- memahat (chip) bebatuan untuk alasan apapun
- mengelem batu di di muka tebing
- menggosok permukaan tebing secara agresif dan berlebihan

• “Pemasangan proteksi permanen (bolts hanger) dilakukan apabila rute tsb tidak bisa dipanjat secara tradisional dengan menggunakan alat pengaman yang bisa dipasang-lepas. Penggunaan hanger yang warnanya sesuai dengan warna jenis batuan tebing akan lebih baik.”

• Penggunaan bor manual (menggunakan tangan) dibeberapa tempat lebih disukai ketimbang penggunaan bor mesin (menggunakan baterei) yang sangat bising.

• Ketika kamu bersiap dan sedang manjat,Dapatkan informasi yang up-to-date sebanyak mungkin mengenai tebing dan lokasi pemanjatan jauh-jauh hari sebelum perjalanan dimulai.

• Jika ada penutupan akses ke tebing panjat, jangan dilanggar dan cari tempat lain untuk dipanjat..

• Gunakan jalan setapak yang sudah ada meskipun lebih jauh dan lebih lama untuk dicapai. Jangan membuat jalan pintas baru yang hanya akan mengakibatkan timbulnya erosi tanah.

• Berkemahlah ditempat yang telah disediakan atau yang biasa digunakan.

• Buang air di WC, minimal harus 10 meter dari sumber air/ sungai. Kalo enggak ada WC, gali lubang 30cm untuk buang air besar.

• Jangan bikin berising lingkungan sekitar, tinggalkan bombox/ cd player dan radio dirumah.

• Gunakan kapur magnesium seperlunya.

• Jangan rapel langsung melingkarkan tali kernmantel ke pohon melainkan gunakan sling yang didikatkan ke pohon.

• Turuti aturan, tradisi, etika kampung sekitar dimana kamu memanjat. Hormati kuncen/ kepala desa, dan ramah tamahlah dengan penduduk sekitar.

• Tetaplah berpenampilan low profile.

• Hormati dan hargailah sesama pemanjat:

• Jangan memonopoli rute. Kalo udah selesai manjat janganlah membiarkan tali tegantung dirute tsb melainkan persilahkan pemanjat lain untuk menggunakan rute tsb.

• Pemanjat yang mau leading harus didahulukan dari pemanjat yang mau toproping
• Jangan bilang ke pemanjat lain bahwa tingkat kesulitan rute tertentu lebih mudah dari yang sebenarnya (dikenal dengan istilah "SANDBAG" atau "SANDBAGGING"). Misalnya rute bernama LABA-LABA berkesulitan 5.11b tapi kamu bilang ke pemanjat lain rute tsb berkesulitan 5.10. Pemberian informasi yang salah ini, baik disengaja ataupun tidak, dapat mengakibatkan kecelakaan terhadap pemanjat lain karena keterbatasan kemampuan memanjat mereka.

• Jika kamu melihat pemanjat lain dalam keadaan berbahaya baik itu disadari atau tidak, segera bertindak dengan sopan dan berikan peringatan

• Jika terjadi kecelakaan berikanlah pertolongan sebisanya.

• Hati-hati dengan tawaran belay atau peminjaman alat dari pemanjat yang baru sekali kamu kenal. Bisa terjadi tambang yang mereka pakai sudah sangat tua, atau pemasangan jangkar top-rope mereka yang salah dan berbahaya.

Fakta-fakta Panjat Tebing

 Untuk menjadi pemanjat kamu enggak perlu otot yang kuat dan modal yang gede, yang terpenting adalah minat. Kemauan yang keras dan dedikasi yang tinggi bakal menjadikan kamu pemanjat yang hebat.
 Memanjat, seperti halnya merangkak dan berjalan, merupakan kegiatan alami yang dilakukan setiap orang sejak masa kecil.
 Olah raga "berimpak rendah" yang bisa ditekuni sampai usia lanjut.
 Menghabiskan banyak kalori perjam-nya hampir mendekati gulat dan beladiri, cocok untuk menjadikan badan tetap langsing.
 Tidak sepenuhnya mengandalkan otot tangan. Pemanjat profesional adalah pemanjat yang pandai dengan teknik penempatan kaki.
 Olah raga yang cocok buat orang yang suka problem solving/ pemecahan masalah artinya olah raga ini mengandalkan otak.
 Bisa dibilang mahal untuk big wall climbing dan bisa juga dibilang terjangkau untuk bouldering.
 Enggak usah selalu dilakukan di tebing, dinding dan struktur bangunan buatan manusia juga bisa dipanjat.
 Mau sukses dipanjat tebing kamu harus pantang menyerah.
 Panjat Tebing bukanlah sekedar olah raga atau petualangan melainkan kombinasi dari keduanya.
 Olah raga paling KEREN kata para penggemarnya.
 Pemanjat hebat adalah pemanjat yang menikmati panjat memanjat dengan sepenuh hati tanpa peduli apa kata orang. Dia selalu berusaha memperbaiki tehnik dan meningkatkan kekuatannya untuk bisa lebih menyatu dengan bebatuan. Selalu rindu akan kembali ke tebing dan batuan besar untuk manjat. Merasa kagum dan takjub saat melihat tebing-tebing baru yang membentang dan terasa ingin menyentuh juga merayapinya.

Apakah Panjat Tebing cocok buat saya?

Cuma ada satu cara untuk mengetahuinya yaitu dengan mencoba memanjat. Adalah lebih baik untuk mencoba memanjat dinding terlebih dahulu sebelum terjun langsung ke tebing alami. Selain karena alasan kenyamanan juga keselamatan. Kalo kamu takut ketinggian kamu tetep harus mencoba olah raga ini karena banyak cerita dari orang2 yang asalnya takut akan ketinggian yang akhirnya kecanduan ama panjat tebing alasan mereke yaitu mereka merasakan kepuasan tersendiri saat mereka berada jauh diatas sana dan menaklukan rasa takutnya, juga sebagian lain sangat menikmati proses penyelesaian masalah rute sampe lupa ama takut ketinggian.

Cari pemanjat yang bener-bener bermotivasi tinggi dan berpengalaman dalam panjat memanjat ketika kamu mencari pelatih/ guide atau rekan manjat pada saat memanjat untuk pertama kalinya. Mereka bisa menjelaskan dengan gamblang betapa nikmatnya Panjat Tebing.

Bagi kamu yang berjiwa petualang, Panjat Tebing jangan sampe kamu lewatkan. Kalo lo udah sering mendaki berbagai gunung ditanah air cubalah manjat paling enggak satu tebing aja yang benar-benar vertikal, jangan putus asa kalo gagal pada percobaan pertama, bangkitkan jiwa petualang-mu yang pantang menyerah!

Seperti disebutkan di fakta-fakta panjat tebing, olah raga ini mengandalkan otak dan saya melihat sendiri banyak dari rekan manjat saya yang berprofesi sebagai engineer, dan menurut saya ini bukan kebetulan melainkan kecocokan. Untuk memecahkan suatu problem pemanjatan ada banyak cara dan diperlukan ketelitian dalam membaca problem tersebut dan memahami ukuran dan gerak tubuh juga teknik yang dikuasai. Selain itu juga panjat tebing memerlukan keahlian dalam memahami detail penggunaan peralatan panjat yang sebagian sangat advanced. Kalo kamu enggak ngerti apa yang saya maksud dengan olah raga pemecahan masalah cobalah manjat atau bouldering sekali saja dan kamu bakal tahu apa yang saya maksudkan.

Ingin badan tetep sehat dan kuat cobalah memanjat secara teratur. Sebelum saya mendiscover dan melakukan Panjat Tebing, saya sering hanya duduk didepan komputer berjam-jam browsing internet dan sekarang waktu duduk dan browsing makin berkurang karena dipake manjat. (Eh..sebetulnya, sekarang agak sering juga duduk didepan komputer ngurus dan bikin website Panjat Tebing..hehehe…). Saya belum pernah merasa lebih fit dan kuat sampe saya berolahraga Panjat Tebing dan dan jangan lupa Panjat Tebing bisa menyulap perut buncit menjadi six pack (enam otot perut) yang menonjol secara sendirinya.

Ingin mencari kawan yang asyik, cobalah Panjat Tebing dan Bouldering. Lewat Panjat tebing saya berteman dengan banyak orang dan melakukan kegiatan manjat bersama. Pada kenyataannya banyak dari kami para pemanjat dinding yang pergi ke gym tidak hanya untuk manjat tapi juga bersosialisasi.

Panjat Tebing olah raga yang terjangkau, kalo enggak setuju silahkan baca Olah Raga Panjat Tebing Mahal???

Perintah dan Signal Memanjat

Agar pemanjatan berjalan dengan lancar dan selamat, komunikasi yang jelas antara si pemanjat dan si pembelay sangat diperlukan. Untuk itulah setiap pemanjat perlu mengetahui perintah dan signal memanjat yang sudah baku dan umum digunakan secara internasional. Perintah ini diucapkan atau diteriakkan dalam bahasa Inggris.

Karena komunikasi ini teramat sangat PENTING untuk dimengerti dan disepakati antar sesama pemanjat, saya masih belum tau dan bertanya-tanya, apakah sudah ada terjemahan bahasa Indonesia yang umum dan standar. Pentingnya penerjemahan ini disebabkan pemanjat yang harus selalu siap meneriakkan perintah dan pembelay yang siap merespon tanpa harus berpikir dua kali (menterjemahkannya dalam bahasa yang langsung dimengerti).

Barangkali ini cuma pengandaian konyol tapi cukup masuk diakal. Bayangkan saja pemanjat yang berteriak "ROCK!" dan pembelay baru yang berusaha menerjemahkannya kedalam bahasa sehari hari, bisa jadi yang masuk kedalam otaknya yaitu celana ROK yang biasa dipake oleh kaum cewek atau juga musik Rock. Kalo lambat dalam penerjemahan dan enggak cepat merespon pembelay bisa jadi udah tertimpa bebatuan yang jatuh.

Dalam dunia panjat tebing teriakan "ROCK!" oleh pemanjat artinya sesuatu jatuh dari atas tebing. Rock artinya batu, tapi dalam prakteknya teriakan ini berarti apa aja yang jatuh dari atas dan dapat mencelakai/ melukai orang yang ada dibawah tebing, apakah itu si pembelay atau orang yang berada disekitar. Sesuatu yang jatuh itu bisa batu, kerikil, karabiner, alat proteksi atau benda lainnya. Pada saat mendengar teiakan ini, pembelay (dan siapa saja yang berada didasar tebing) diharapkan untuk mencari perlindungan untuk keselamatan tanpa membahayakan si pemanjat.

PERSIAPAN

Setelah pemanjat mengikatkan tali ke harnesnya dengan simpul figure eight dan simpul pengunci dan pembelay memasang tali, alat belay keharnesnya lakukan pengecekan balik: Pemanjat mengecek si pembelay dan sebaliknya. Setelah itu lakukan pengecekan ulang! Kalo semua sistem udah yakin betul dipasang dengan benar dan pemanjatan akan segera dilakukan si pemanjat mengucapkan On belay! kepada si pembelay. Kemudian si Pembelay yang sudah siap dengan tali dan alat belaynya yang terpasang ke harnes menjawabnya dengan ucapan Belay on! Kata belay on ini bisa diartikan "saya siap untuk menyetop kalo kamu jatoh!" Selanjutnya pemanjat bilang Climbing! dan dijawab dengan Climb on!

Di area pemanjatan yang populer dan banyak dikunjungi, sangat disarankan untuk saling meneriakan nama sipemanjat atau si pembelay. Tujuannya supaya enggak salah tangkap perintah dari pemanjat atau pembelay lain yang manjat bersebelahan dengan kita.

Beberapa kecelakaan dalam panjat tebing terjadi disebabkan miskomunikasi antara pemanjat dan pembelay. Sebagai contoh ada seorang pemanjat yang sedang timbal balik komunikasi dengan pembelaynya dan satu saat si pemanjat mengatakan " OKAY!" yang artinya "Baiklah, kalo begitu". Celakanya si pembelay salah mendengar dan diartikan "OFF BELAY!" (Lepaskan saya dari belay!). Tanpa konfirmasi ulang sipembelay melepas tali kermantel dan alat belay-nya. Kemudian "AAAAHHHHHHHH!" teriakan si pemanjat yang melayang jatuh dari puncak tebing.

Dari kisah nyata diatas kamu bisa menyimpulkan apalah artinya kenikmatan panjat pemanjat tanpa komunikasi yang jelas dan rasa percaya antara pemanjat dan pembelay. Teriakan "OKAY!" (baca: okey) terdengar mirip dengan "OFF BELAY!" (baca: of biley). Makanya lakukan pengulangan dan konfirmasi kalo kamu enggak jelas dan kurang pasti akan apa yang diucapkan oleh si pemanjat atau si pembelay.

Tak jarang saya ketemu pemanjat yang udah berpengalaman yang karena reputasinya sebagai pemanjat senior udah enggak mempedulikan dan menggunakan dasar-dasar perintah manjat-memanjat.Meskipun ini hak mereka, saya pribadi kurang suka sama sikap dan atitude seperti ini. Kalo mereka lupa itu masalah lain tapi kalo mereka sengaja enggak menggunakan perintah dan signal sebagai pemanjat senior itu bukannya memberikan contoh yang baik dan mereka beresiko dengan keselamatan mereka dan orang-orang yang mereka ajak manjat bersama.

Jumat, 18 September 2009

ETIKA DAN GAYA DALAM PANJAT TEBING

III. ETIKA DAN GAYA DALAM PANJAT TEBING

A.ETIKA

Menurut KUBI, etika berarti nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Pelanggaran terhadap suatu nilai biasanya tak akan mendapatkan sanksi yang legal. Dan antara suatu masyarakat dengan masyarakat lain sering kali mempunyai etika yang berbeda terhadap suatu hal yang sama.

Di antara masyarakat pemanjat, juga terdapat etika yang kerap berbenturan. Suatu contoh adalah ketika Ron Kauk membuat suatu jalur dengan teknik rap bolting di kawasan Taman Nasional Lembah Yosemite, Amerika Serikat. Kawasan pemanjatan ini terkenal sebagai kawasan pemanjat tradisional dan mempunyai peraturan konservasi alam yang ketat. Pembuatan jalur dengan cara demikian tak dapat dibenarkan oleh para pemanjat tradisional di kawasan ini, di antaranya adalah John Bachar. Bachar menganggap bahwa semua jalur yang ada di Yosemite harus dibuat dengan cara tradisional, yaitu sambil memanjat (leading). Kasus ini menjadi besar karena sampai menimbulkan perkelahian di antara kedua pemanjat yang berlainan aliran itu. Kasus tersebut menggambarkan bagaimana etika sering menimbulkan perdebatan. Kasus ini hanya salah satu dari berbagai masalah yang kerap timbul di sekitar pembuatan jalur.

Sebetulnya ruang lingkup etika dalam panjat tebing terdiri dari :

 Masalah teknik pembuatan jalur
Secara umum ada dua aliran teknik pembuatan jalur yang dewasa ini banyak dianut, yaitu aliran tradisional dan aliran modern. Pembuatan jalur secara tradisional pada prinsipnya adalah membuat jalur sambil memanjat. Teknik ini cenderung bernilai petualangan karena lintasan yang akan dilewati sama sekali baru, tanpa pengaman, tanpa dicoba terlebih dahulu. Teknik tradisional ini berkembang di Eropa sampai tahun 70-an, namun kini masih dianut oleh pemanjat tradisional Amerika. Sementara itu pembuatan jalur secara modern terdiri dari dua cara yang banyak digunakan. Cara pertama adalah dengan teknik tali tetap (fix rope technique). Pada teknik ini, pembuatan jalur dapat dilakukan dengan cara rappeling bolting atau ascending bolting pada fix rope yang telah terpasang terlebih dahulu. Cara kedua mirip dengan cara pertama, tetapi tidak dengan tali tetap melainkan menggunakan top rope. Kelebihan cara ini, pembuat jalur dapat membuat perencanaan arah jalur dan penempatan pengaman lebih presisi karena gerakan pemanjatan dapat diketahui terlebih dahulu.

 Masalah penamaan jalur
Siapa yang berhak memberi nama pada suatu jalur, si pembuat jalur atau pemanjat pertama yang menuntaskan jalur, juga tidak ada aturannya. Biasanya si pembuat jalur bersikeras untuk menjadi orang pertama yang menuntaskan jalur tersebut. Kadang-kadang mencapai waktu berbulan-bulan untuk membuat sekaligus menuntaskan suatu jalur baru. Tapi ada kalanya jalur yang dibuat terlalu sulit dan jauh di luar kemampuan si pembuat jalur itu. Di Indonesia biasanya nama jalur merupakan suatu kesepakatan saja dari seorang atau sekelompok pembuat jalur.

 Masalah keaslian jalur
Masalah keaslian jalur biasanya dikaitkan dengan banyaknya jumlah pengaman tetap yang ada dalam jalur tersebut. Suatu jalur, misalnya dengan jumlah bolt sebanyak 7 buah akan tetap 7 dan tak boleh bertambah atau berkurang lagi karena dalam kode etiknya, ini sudah resmi menjadi sebuah jalur. Yang menjadi masalah, apakah suatu jalur dengan jarak antar bolt yang sangat jauh tak dapat ditambah dalam batas-batas yang wajar? Juga sebaliknya, apakah jalur yang jarak antar boltnya terlalu rapat tak dapat dikurangi? Tradisi di Yosemite, bila seseorang berhasil memanjat suatu jalur yang cukup mudah, katakanlah setinggi 15 meter, dengan hanya 2 bolt saja, hal ini berlaku bagi semua pemanjat yang akan menggunakan jalur tersebut tanpa penambahan bolt lagi. Tradisi ini memang mendapat protes dari banyak pemanjat pemula yang merasa sanggup menuntaskan jalur tersebut, namun tak mau mengambil resiko dengan hanya menggunakan 2 bolt saja. Contoh lain adalah jika seseorang pemanjat merasa suatu jalur dengan jumlah bolt yang wajar terlalu mudah, berhakkah ia mengurangi jumlah bolt yang ada? Sampai sejauh mana kita bisa menghargai prinsip pemanjatan pertama? (sampai yang paling ekstrim)

 Pengubahan bentuk permukaan tebing
Untuk masalah yang satu ini, hampir semua pemanjat sepakat bahwa hal itu haram untuk dilakukan, baik itu menambah kesulitan maupun membuat jalur tersebut menjadi lebih mudah. Walaupun begitu sebagian kecil dari seluruh kawasan pemanjatan yang ada (hanya sebagian kecil) yang menerima hal ini, namun hanya pada permukaan yang tanpa cacat sama sekali (blank/no holds) agar kesinambungan jalur sebelum dan sesudahnya dapat terjaga.

B. GAYA

Pengertian gaya didalam panjat tebing menyangkut metode dan peralatan serta derajat petualangan dalam suatu pendakian. Petualangan berarti tingkat ketidakpastian hasil yang akan dicapai.

Gaya harus sesuai dengan pendakian. Gaya yang berlebihan untuk tebing yang kecil, sebaik apapun gaya tersebut akhirnya menjadi gaya yang buruk. Mendaki secara alamiah dengan bantuan teknis terbatas adalah gaya yang baik. Kita harus bekerja sama denga tebing, jangan memaksanya. Kita dapat menggunakan point-point alamiah seperti batu, tanduk (horn), pohon, atau pada batu yang terjepit didalam celah (Chockstone). Akhirnya kita sampai pada pendakian sendiri, tanpa menggunakan tali, Maksudnya adalah menyesuaikan gaya dengan pendakian dan kemampuan diri. Gaya yang baik adalah persesuaian yang sempurna - penapakan dari dua sisi yang baik antara ambisi dan kemampuan.

Tidak ada pendakian yang sama. Standar yang baik selalu dapat diterapkan dan juga memungkinkan penyelesaian menjadi kepribadian masing-masing rute. Itulah prinsip pendakian pertama kita tadi. Prinsip tersebut dapat membimbing kita dalam masalah gaya dan etika. Kita telah memiliki standar minimum yang telah siap dan tersedia untuk dijadikan sasaran. Penerimaan terhadap prinsip ini memungkinkan kita untuk meniadakan pertentangan pendapat tentang gaya umum. Keuntungan lain adalah gaya dari pendakian pertama adalah gaya yang layak, dan memberikan keuntungan psikologis kepada pendaki-pendaki berikutnya bahwa rute tersebut, paling tidak, pernah dicoba. Dengan menghargai orang-orang yang menyelesaikannya, dan memperlihatkan bahwa kita paham akan nilainya, serta menganggap pendakian mereka sebagai suatu hasil karya, maka pendakian meraka bukanlah sesuatu yang harus dikalahkan.

Dalam bukunya How to Rock Climb: Face Climbing, John Long menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit mengenai beberapa gaya yang ada, di antaranya adalah :


• Onsight Free Solo
Istilah onsight berarti memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat dijalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Sedangkan solo berarti tanpa tali. Jadi onsight free solo berarti pemanjatan tali untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.

• Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tapi pernah mencoba walaupun belum hapal benar jalur tersebut.

• Worked Solo
Pemanjatan tanpa tali dengan sebelumnya pernah mencoba berkali-kali sampai benar-benar hapal mati seluruh bentuk permukaan tebing.

• Onsight Flash / Vue
Memanjat suatu jalur tanpa pernah mencobanya, melihat pemanjat lain dijalur yang sama, juga tak pernah mendapat informasi apa-apa. Memanjat dengan menggunakan tali sebagai perintis jalur (leader) dan memasangpengaman (running belay). Pemanjat juga tidak sekalipun jatuh dan tidak mengambil nafas/istirahat disepanjang jalur.

• Beta Flash
Pemanjatan tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat dijalur tersebut, namun telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pemanjat kemudian memanjatnya tanpa jatuh dan tanpa istirahat sepanjang jalur.

• Déjà vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan memanjat yang lebih baik , ia kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur tersebut dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.

• Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh dan memanjat sambil memasang pengaman sebagai perintis jalur.

• Pink Point
Sama dengan red point hanya semua pengaman telah dipasang pada tempatnya.

• Brown Point
Ada beberapa macam untuk kategori ini, misalnya seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir ia jatuh (hangdogging). Pemanjatan dengan top rope juga termasuk dalam kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan dengan bor pertama dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi yang masuk dalam kategori ini. Seluruh kategori ini menceritakan berbagai taktik, strategi, atau trik untuk mempelajari sekaligus mencoba menuntaskan suatu jalur.

Setelah begitu banyak melihat gaya pemanjat dalam menuntaskan jalur,kita dapat dapat membandingkan mana yang lebih sulit. Dengan begitu dapat pula dibandingkan perbedaan kemampuan seorang pemanjat.

C. PERTIMBANGAN LAIN

1. Gunakan Chock dan Runners (titik pengaman) Alam. Pendakian tebing adalah sesuatu kesatuan yang harus ditangani secara hati-hati. Yang harus diperhatikan adalah masalah penggunaan runners alam dan chockstone buatan, karena alat tersebut membiarkan tebing tetap utuh.

Pengunaan piton (paku tebing) dalam suatu pendakian masih menimbulkan cacat pada tebing. Kerusakan yang ditimbulkannya adalah karena :
a. Mempersulit atau mempermudah rute dengan merubah sifatnya.
b. Menimbulkan noda-noda goresan yang tidak sedap dipandang.
c. Dapat melepas belahan batu besar atau serpihan-serpihan batu.

Jadi walaupun dalam kasus-kasus dimana pendakian pertama menggunakan piton, kita harus berusaha memperkecil penggunaan piton karena sifatnya yang merusak

2. Sampah
Jika kita membawa kaleng makan dalam suatu pendakian, injak kaleng tesebut dan bawalah keatas. Lebih baik lagi jika membawa makanan yang tidak dalam kaleng. Kulit jeruk sebaiknya disimpan kembali karena tidak dimakan oleh binatang dan sangat lambat pembusukannya.

Kamis, 17 September 2009

KELAS DAN GRADE DALAM PANJAT TEBING

II. KELAS DAN GRADE DALAM PANJAT TEBING

Kelas
Seperti dalam olahraga lainnya, seseorang atlit dapat diukur kemampuannya pada suatu tingkat pertandingan. Pemain catur dengan elorating dibawah 2000 tidak akan dapat mengikuti turnamen tingkat Gand Master. Dalam panjat tebing terdapat klasifikasi tebing berdasarkan tingkat kesulitannya, dengan demikian kita dapat mengukur sampai di mana kemampuan kita. Kelas yang dibuat oleh Sierra Club adalah :

 Kelas 1:Cross Country Hiking
Perjalanan biasa tanpa membutuhkan bantuan tangan untuk mendaki / menambah ketinggian.

 Kelas 2:Scrambling
Sedikit dengan bantuan tangan, tanpa tali.

 Kelas 3:Easy Climbing
Secara scrambling dengan bantuan , dasar teknik mendaki (climbing) sangat membantu, untuk pendaki yang kurang pengalaman dapat menggunakan tali.

 Kelas 4:Rope Climbing with belaying
Belay (pengaman) dipasang pada anchor (titik tambat) alamiah atau buatan,berfungsi sebagai pengaman.

 Kelas 5
Kelas ini dibagi menjadi 11 tingkatan (5.1 sampai 5.14), di mana semakin tinggi angka di belakang angka 5, berarti semakin tinggi tingkat kesulitan tebing. Pada kelas ini, runners dipakai sebagai pengaman.

 Kelas A
Untuk menambah ketinggian, seseorang pendaki harus menggunakan alat. Dibagi menjadi lima tingkatan (A1 sampai A5). Contoh : Pada tebing kelas 5.4 tidak dapat dilewati tanpa bantuan alat A2, tingkat kesulitan tebing menjadi 5.4 - A2.

Grade
Merupakan ukuran banyaknya teknik pendakian yang diperlukan. Faktor rute yang sulit dan cuaca buruk dapat menambah bobot grade menjadi lebih tinggi. Sebagai contoh, tebing kelas 5.7 yang rendah dan dekat dengan jalan raya, mungkin akan mempunyai grade I (satu). Pembagian grade adalah sebagai berikut.

tabel 1. pembagian grade

KLASIFIKASI PANJAT TEBING

I. KLASIFIKASI PANJAT TEBING
Dalam panjat tebing terdapat 2 klasifikasi pembedaan, yaitu :

1. Pembedaan yang pertama adalah antara Free Climbing dengan Artificial Climbing.Free Climbing adalah suatu tipe pemanjatan di mana si pemanjat menambah ketinggian dengan menggunakan kemampuan dirinya sendiri, tidak dengan bantuan alat. Dalam Free Climbing, alat digunakan hanya sebatas pengaman, bukan sebagai alat untuk menambah ketinggian. Bedanya dengan Artificial Climbing, di mana alat selain digunakan sebagai pengaman, juga berfungsi untuk menambah ketinggian.

2. Pembedaan yang kedua adalah antara Sport Climbing dengan Adventure Climbing.Sport Climbing adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olahraganya. Dalam Sport Climbing, pemanjatan dipandang seperti halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan. Sedangkan pada Adventure Climbing, yang ditekankan adalah lebih pada nilai petualangannya.

Selasa, 15 September 2009

Rock Climbing


Mendengar kata Rock Climbing (panjat tebing), kita seperti dikenalkan pada suatu jenis olahraga baru. Benarkah kita belum mengenalnya? Barangkali kita masih ingat masa kecil dulu, alangkah gembiranya kita bermain, memanjat tembok, pohon-pohon, atau batu-batu besar, di mana kita tidak memikirkan resiko jatuh dan terluka, yang ada adalah rasa gembira. Sebenarnya kegiatan Rock Climbing tidak jauh dari itu, cuma kali ini kita sudah memilih medan tertentu dengan memikirkan resikonya.

Pada dasarnya Rock Climbing adalah bagian dari Mountaineering (kegiatan mendaki gunung, suatu perjalanan petualangan ke tempat-tempat yang tinggi), hanya di sini kita menghadapi medan yang khusus. Dengan membedakan daerah atau medan yang dilalui, Mountaineering dapat dibagi menjadi : Hill Walking, Rock Climbing dan Ice/Snow Climbing. Hill Walking merupakan perjalanan biasa melewati serangkaian hutan dan perbukitan dengan berbekal pengetahuan peta/kompas dan survival. Kekuatan kaki menjadi faktor utama suksesnya suatu perjalanan. Untuk Rock Climbing, medan yang dihadapi berupa perbukitan atau tebing di mana sudah diperlukan bantuan tangan untuk menjaga keseimbangan tubuh atau untuk menambah ketinggian. Ice/Snow Climbing hampir sama seperti halnya dengan Rock Climbing, namun medan yang dihadapi adalah perbukitan atau tebing es/salju .

Kadang-kadang akan timbul pertanyaan pada kita, seperti ini : Kenapa sih naik gunung? George L. Mallory (pendaki Inggris) menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan, Because it’s there.. Lalu pertanyaan lain, Apa yang kau dapatkan di sana ? Seorang pendaki akbar, Reinhold Messner berkata : The mountains tell you, quite ruthlessly, who you are, and what you are. Mountaineering is a game where you can’t cheat ..., more than that, what’s important is your determination cool nerves, and knowing how to make the right choice.

Olahraga seperti ini adalah nikmat, dan barangkali sedikit egois. Segala kenikmatan pada saat kita menyelesaikan sebuah medan sulit adalah milik kita sendiri, tidak ada sorak sorai, apalagi kalungan medali. Sebaliknya, adanya kecelakaan dalam suatu pendakian adalah karena kelalaian kita sendiri, kurang hati-hati dan kurang memperhitungkan kemampuan diri. Banyak pendaki yang melakukan turun tebing (rappeling / abseiling) dengan melompat dan sangat cepat, ini sangat berbahaya. Untuk kita, sebaiknya menganggap kegiatan panjat tebing sebagai hobi, seperti hobi-hobi lainnya. Sebagai gambaran bisa kita simak perkataan Walter Bonatti, seorang pendaki kawakan dari Italia, saat melakukakn pendakian solo pada dinding yang mengerikan di Swiss. Ketika ia sedang menghadapi kesulitan melewati overhang (dinding menggantung dengan kemiringan > 90 derajat), sebuah pesawat mengitarinya yang rupanya mencarinya. Kehadiran pesawat menekan kesendiriannya : “ Siapa yang mengatakan bahwa mereka melihatku ?, aku berfikir dan merasa bahwa pesawat tersebut adalah bagian dariku, yang kini meninggalkan dan merobek hatiku. Aku mulai sadar bahwa aku lebih suka jika terdapat kesunyian yang mutlak. Semua yang terjadi dalam waktu singkat tadi seakan-akan merupakan usaha akhir untuk menghubungkan diriku dengan kehidupan yang tidak mempunyai arti lagi bagiku. Pesawat itu berputar-putar kemudian meninggalkan diriku seperti mati.”

Akhirnya, marilah kita mencoba lebih mengenal panjat tebing yang nikmat itu. Pada tulisan ini, pembicaraan hanya terbatas pada pembahasan panjat tebing, dengan tidak mengecilkan yang lain, Hill Walking dan Ice/Snow Climbing.